Bagi Yahyono, atau yang lebih akrab disapa Yayok, aroma tanah basah dan hamparan pohon kopi di Desa Panji Mulia bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sanalah tempat pria berusia 43 tahun ini merajut masa depan bagi keluarga kecilnya. Sebagai ayah dari sepasang putra dan putri, serta seorang kakek yang kini telah dikaruniai seorang cucu, setiap peluh yang menetes di kebun adalah wujud cinta dan tanggung jawab demi senyum mereka di rumah.
Kisah kedekatan Yayok dengan dunia kopi organik sebenarnya berawal dari sebuah jabat tangan persahabatan pada tahun 2015. Kala itu, Misniadi—sahabat masa kecilnya yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Kelompok Tani Kopi Panji Mulia—datang membawa sebuah obrolan baru. Misniadi mengenalkannya pada konsep pertanian organik. Berangkat dari rasa penasaran yang besar tentang apa itu “organik” dan bagaimana alam bisa bekerja tanpa bahan kimia, Yayok memutuskan untuk mengambil langkah berani: beralih haluan merawat kebunnya secara alami.
“Sejak beralih ke organik, tanaman kopi jadi jauh lebih sehat. Pertumbuhannya bagus, mutu buahnya saat panen memuaskan, dan yang paling penting, rasanya jauh lebih enak dan mantap saat diseduh,” ungkap Yayok tersenyum di awal September 2025.
Bagi ekonomi keluarganya, kopi organik juga membawa berkah nyata. Harga jual yang lumayan baik di pasaran perlahan tapi pasti mampu menopang kesejahteraan rumah tangganya. Guna menjaga dapur tetap ngebul di luar musim panen kopi, pria yang ulet ini juga memanfaatkan lahan sela dengan bercocok tanam palawija, salah satunya menanam cabai.
Berpacu dengan Cuaca dan Jamur Upas
Namun, menjadi petani berarti harus siap berhadapan dengan ketidakpastian alam. Akhir-akhir ini, senyum di wajah Yayok kerap membayang cemas. Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan berat yang harus ia hadapi sehari-hari. Curah hujan dan kelembapan yang tak menentu memicu datangnya musuh bagi tanaman kopinya: penyakit jamur upas.
Serangan jamur ini kian hari kian mengancam produktivitas kebun kopi organiknya. Di tengah keterbatasan yang ada, Yayok tidak bisa berjalan sendirian. Ia menaruh harapan besar pada program organik Orang Utan Coffee.
Yayok berharap, program Orang Utan Coffee dapat hadir mengulurkan tangan—baik melalui bantuan teknis, pelatihan, maupun solusi nyata—untuk mendampingi para petani dalam mengatasi wabah jamur upas ini. Baginya, pendampingan ini sangat krusial bukan hanya untuk menyelamatkan panennya tahun ini, tetapi juga demi memastikan kelestarian kopi organik di Panji Mulia agar tetap bisa dinikmati oleh generasi cucunya kelak.
Dari sepetak lahan di Panji Mulia, Yayok terus bertahan, merawat setiap batang kopi dengan cinta, sembari menggantungkan harapan agar harmoni antara petani, alam, dan program pendampingan dapat terus berjalan beriringan.